Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Event

Mendidik dengan Hati, Bergerak dengan Dedikasi: Refleksi Totalitas Dosen Pemula Menuju Panggung Zaman

Oleh: Muh. Habibulloh (Disarikan dari Sambutan Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Pd.I. pada Yudisium PKDP, 13 Juli 2026) Gerbang Baru Profesionalisme Pendidik Pendidikan tinggi merupakan pilar strategis dalam mencetak generasi masa depan yang unggul, adaptif, dan berkarakter. Di balik kokohnya pilar tersebut, eksistensi dosen memegang peranan yang sangat vital. Pada tanggal 13 Juli 2026, sebuah momentum bersejarah ditorehkan di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) melalui penyelenggaraan Yudisium Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP). Sebanyak 314 peserta dinyatakan lulus dan resmi menyandang kesiapan penuh untuk mengabdi secara profesional. Dalam prosesi ilmiah tersebut, Rektor UIN SATU, Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Pd.I., menyampaikan pidato sambutan yang tidak sekadar seremonial, melainkan sebuah manifesto, kompas moral, dan arah baru bagi para pendidik muda dalam menapaki realitas dunia akademik modern. Mengajar dengan Hati: Melampaui Batas Logika Kogn...

"Kasusmu, Rezekiku": Antara Peluang, Empati, dan Etika di Era Digital

"Kasusmu, Rezekiku": Antara Peluang, Empati, dan Etika di Era Digital Di era media sosial, muncul sebuah ungkapan yang semakin populer, yaitu "Kasusmu, rezekiku." Kalimat ini menggambarkan kondisi ketika kesalahan, musibah, atau persoalan yang dialami seseorang justru menjadi sumber penghasilan bagi pihak lain. Fenomena tersebut banyak terlihat pada kreator konten, jurnalis, pengacara, konsultan, psikolog, hingga pelaku usaha yang memperoleh keuntungan dari perhatian publik terhadap suatu kasus. Pada dasarnya, tidak semua bentuk "kasusmu, rezekiku" adalah sesuatu yang salah. Dalam kehidupan sosial, banyak profesi memang hadir untuk menyelesaikan persoalan orang lain. Dokter memperoleh penghasilan karena ada orang yang sakit. Pemadam kebakaran bekerja ketika terjadi kebakaran. Pengacara mendampingi klien yang tersandung masalah hukum. Psikolog membantu mereka yang mengalami gangguan mental. Bahkan guru dan dosen memperoleh pekerjaan karena masih banyak masy...

Adat Setempat di Hari Asyura: Antara Ibadah dan Tradisi Syukur Masyarakat

Gambar : ilustrasi kegiatan Adat setempat di Hari Asyura: Antara Ibadah dan Tradisi Syukur Masyarakat Dalam dua hari terakhir, umat Islam memperingati hari-hari yang istimewa di bulan Muharam, yaitu Tasu'a dan Asyura. Tasu'a dikenal sebagai tanggal 9 Muharam, sedangkan Asyura adalah tanggal 10 Muharam. Kedua hari ini memiliki kedudukan khusus dalam tradisi Islam, yang ditandai dengan berbagai bentuk amal ibadah, seperti puasa, memperbanyak doa, dzikir, sedekah, dan amalan kebaikan lainnya. Sebagai bagian dari masyarakat Muslim, kita tentu tidak asing dengan istilah Tasu'a dan Asyura. Rasulullah SAW menganjurkan puasa pada hari Asyura, bahkan menyertakannya dengan puasa Tasu'a sebagai pembeda dengan tradisi umat terdahulu. Namun demikian, dalam praktik kehidupan masyarakat, bentuk peribadatan dan amaliah yang dilakukan sering kali memiliki corak yang berbeda-beda sesuai dengan adat dan budaya setempat. Pemandangan menarik saya jumpai ketika melintasi Desa Rejosari pada s...

Menulis untuk Mengabdi: Membangun Budaya Karya Ilmiah bagi Dosen Pemula

  Menulis untuk Mengabdi: Membangun Budaya Karya Ilmiah bagi Dosen Pemula Refleksi Materi Penulisan Karya Ilmiah oleh Prof. Dr. H. Ngainun Naim, M.H.I. dalam Agenda Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) 2026 Salah satu kompetensi mendasar yang harus dimiliki seorang dosen adalah kemampuan menghasilkan karya ilmiah. Dalam agenda Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Tahun 2026, Prof. Dr. H. Ngainun Naim, M.H.I. memberikan penguatan mengenai pentingnya penulisan karya ilmiah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari profesi dosen. Menurut beliau, tugas dosen tidak berhenti pada aktivitas mengajar di kelas, tetapi juga mencakup penelitian dan publikasi ilmiah sebagai bentuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kontribusi kepada masyarakat. Beliau menegaskan bahwa menulis artikel jurnal merupakan kewajiban setiap dosen. Idealnya, seorang dosen melakukan penelitian secara berkala dan menghasilkan minimal satu artikel jurnal setiap tahun. Artikel jurnal merupakan luaran penelitia...

PARADIGMA INTEGRASI KEILMUAN : Refleksi Materi Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula Tahun 2026

PARADIGMA INTEGRASI KEILMUAN : Refleksi Materi Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula Tahun 2026 Materi Paradigma Integrasi Keilmuan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag. dalam kegiatan Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula Tahun 2026 memberikan pemahaman yang mendalam mengenai pentingnya membangun hubungan yang harmonis antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. Materi ini menjadi sangat relevan dalam konteks pendidikan tinggi keagamaan Islam (PTKI) yang saat ini menghadapi berbagai tantangan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta dinamika sosial masyarakat yang semakin kompleks. Salah satu isu utama yang dibahas adalah adanya dikotomi keilmuan yang selama ini memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Dikotomi tersebut tidak hanya terlihat dalam struktur kelembagaan pendidikan, tetapi juga memengaruhi cara berpikir peserta didik dan akademisi. Akibatnya, sering muncul pemisahan antara nalar teologis dan nalar saintifik yang berpotensi melahirkan dualisme intelektu...

Menjadi Dosen Unggul dan Berdaya Saing Global: Refleksi Materi Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A.

Menjadi Dosen Unggul dan Berdaya Saing Global: Refleksi Materi Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A. Dalam agenda Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP), peserta memperoleh wawasan yang sangat berharga dari Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia. Beliau menekankan bahwa tantangan pendidikan tinggi di era global menuntut dosen untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik dalam aspek akademik, penelitian, maupun jejaring internasional. Menurut beliau, seorang dosen harus memiliki kedalaman keilmuan yang mumpuni. Kedalaman ilmu menjadi fondasi utama dalam menjalankan tugas sebagai pendidik, peneliti, dan pengabdi kepada masyarakat. Dosen tidak cukup hanya menguasai pengetahuan pada tingkat dasar, tetapi harus mampu menjadi rujukan akademik dalam bidang keahliannya. Oleh karena itu, proses belajar tidak boleh berhenti setelah seseorang menjadi dosen. Justru status sebagai dosen menuntut pembelajaran yang lebih intensif dan ...

Merancang Pembelajaran Berdampak Melalui OBE: Refleksi Sesi Perencanaan Pembelajaran Bersama Dr. Maryono, M.Pd.

Merancang Pembelajaran Berdampak Melalui OBE: Refleksi Sesi Perencanaan Pembelajaran Bersama Dr. Maryono, M.Pd. Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) menjadi momentum penting bagi para dosen untuk memperkuat kompetensi pedagogik, khususnya dalam merancang pembelajaran yang efektif, terukur, dan berorientasi pada capaian. Dalam salah satu sesi pelatihan, Dr. Maryono, M.Pd., dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, menyampaikan materi tentang Perencanaan Pembelajaran dengan fokus pada implementasi Outcome Based Education (OBE) dalam pendidikan tinggi. Pada sesi tersebut, Dr. Maryono menegaskan bahwa keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dosen dalam menyampaikan materi, tetapi juga oleh kualitas perencanaan yang disusun sebelum perkuliahan berlangsung. Perencanaan pembelajaran merupakan fondasi utama yang menentukan arah, strategi, metode, serta capaian yang ingin diwujudkan dalam proses pendidikan. Beliau menjelaskan bahwa paradigma pendidikan t...

Moderasi Beragama dan Masa Depan Indonesia: Refleksi Materi PKDP Bersama Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag.

Moderasi Beragama dan Masa Depan Indonesia: Refleksi Materi PKDP Bersama Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) pada Sabtu, 20 Juni 2026, menghadirkan narasumber nasional, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam sesi yang mengangkat tema Moderasi Beragama, beliau mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa moderasi beragama bukan sekadar program pemerintah, melainkan kebutuhan mendasar bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Di awal penyampaiannya, Prof. Zainul  menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya dalam mengelola keberagaman. Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas fondasi kemajemukan agama, budaya, suku, dan bahasa. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi instrumen penting untuk menjaga persatuan dan menghindarkan bangsa dari berbagai be...

Moderasi Beragama sebagai Pilar Harmoni Bangsa: Membangun Sikap Inklusif di Tengah Keberagaman

Moderasi Beragama sebagai Pilar Harmoni Bangsa: Membangun Sikap Inklusif di Tengah Keberagaman Kegiatan Pelatihan Keterampilan Dasar Pendidikan (PKDP) yang diselenggarakan di Hotel Crown Tulungagung menghadirkan Dr. Eko Siswanto, M.H.I. sebagai narasumber pada sesi Moderasi Beragama. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi utama dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan kehidupan berbangsa di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Berbekal pengalaman lebih dari dua belas tahun sebagai pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Papua, tiga tahun di FKUB Tulungagung, serta keterlibatan dalam Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Dr. Eko Siswanto memberikan perspektif yang komprehensif mengenai dinamika kehidupan keagamaan di Indonesia. Menurutnya, moderasi beragama bukanlah upaya untuk mengurangi keyakinan seseorang terhadap agamanya, melainkan cara beragama yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan te...

Dari Budaya Scroll Menuju Budaya Tumbuh: Melampaui Diri di Era Digital

Dari Budaya Scroll Menuju Budaya Tumbuh: Melampaui Diri di Era Digital Pendahuluan Era digital telah menghadirkan kemudahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Melalui satu genggaman tangan, seseorang dapat mengakses informasi, hiburan, berita, bahkan kehidupan pribadi orang lain hanya dengan menggeser layar ke atas dan ke bawah. Aktivitas yang dikenal dengan istilah scrolling kini telah menjadi bagian dari rutinitas harian jutaan orang. Status media sosial, video pendek, dan berbagai konten digital terus mengalir tanpa henti. Di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin mengkhawatirkan, yaitu menurunnya produktivitas, berkurangnya daya fokus, dan meningkatnya kecenderungan untuk menunda pekerjaan. Banyak individu menghabiskan berjam-jam untuk melihat kehidupan orang lain tanpa menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi dirinya sendiri. Budaya scroll perlahan menggeser budaya berkarya. Pertanyaannya, sampai kapan kita menjadi penonton dalam kehidupan o...

Menimba Hikmah dari Tanah Suci: Silaturahmi dan Ziarah Haji ke Kediaman Prof. Dr. Ngainun Naim

Menimba Hikmah dari Tanah Suci: Silaturahmi dan Ziarah Haji ke Kediaman Prof. Dr. Ngainun Naim Pada hari Senin pukul 19.30 WIB, saya berkesempatan melakukan kunjungan silaturahmi sekaligus ziarah haji ke kediaman Prof. Dr. Ngainun Naim setelah beliau kembali dari menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Kunjungan ini menjadi momen yang sangat berharga karena selain untuk menyampaikan ucapan selamat atas kepulangan beliau, juga untuk mendengarkan secara langsung pengalaman spiritual dan perjalanan ibadah yang beliau jalani selama berada di Arab Saudi. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut, kami terlebih dahulu menanyakan keadaan dan kondisi kesehatan beliau setelah pulang dari ibadah haji. Prof. Dr. Ngainun Naim menyampaikan rasa syukur karena dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar serta kembali ke tanah air dalam keadaan sehat. Beliau juga menceritakan berbagai pengalaman yang diperoleh selama menjalankan ibadah di Tanah Suci, mul...

INTISARI PIDATO REKTOR UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

INTISARI PIDATO REKTOR UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 Tema: "Falsafah Jawa dalam Membangun Kampus Dakwah dan Peradaban" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil 'alamin, puji syukur ke hadirat Allah SWT. Pada momentum Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, marilah kita meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dan keislaman dalam membangun UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sebagai kampus dakwah dan peradaban yang berakar pada nilai-nilai luhur bangsa. Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga pedoman moral yang mengajarkan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Jawa yang selama berabad-abad membentuk karakter bangsa Indonesia. Dalam membangun UIN SATU Tulungagung, terdapat lima falsafah Jawa yang perlu menjadi ruh gerakan bersama: 1. Sumeleh (Ikhlas) Sumeleh adalah sikap menyerahkan hasil terbaik k...

Begitu Singkat Hidup Ini, Buatlah Barokah Setiap Detiknya

Begitu Singkat Hidup Ini, Buatlah Barokah Setiap Detiknya Hidup manusia di dunia sejatinya sangatlah singkat. Waktu yang kita miliki bagaikan embusan angin yang cepat berlalu, tanpa terasa telah meninggalkan jejak usia yang semakin berkurang. Banyak manusia terlena dengan gemerlap dunia, seakan hidup ini panjang dan tidak akan berakhir. Padahal, kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an: > كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ > “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” > (QS. Ali Imran: 185) Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menghindar dari kematian, baik ia kaya maupun miskin, muda maupun tua. Oleh karena itu, setiap detik yang kita miliki adalah kesempatan emas untuk berbuat kebaikan. Rasulullah ﷺ juga bersabda: > “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum m...

Menjaga Kehormatan di Tengah Dunia yang Terbuka

Menjaga Kehormatan di Tengah Dunia yang Terbuka Di era ketika dunia semakin terbuka, batas antara yang pribadi dan yang publik kian menipis. Teknologi, media sosial, dan budaya global mendorong manusia untuk menampilkan dirinya tanpa sekat. Dalam arus keterbukaan ini, muncul satu pertanyaan mendasar: di manakah letak kehormatan manusia, dan bagaimana cara menjaganya? Kehormatan bukanlah sesuatu yang melekat pada penampilan luar semata, melainkan tumbuh dari cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ia berakar pada kesadaran bahwa manusia bukan sekadar tubuh, tetapi juga jiwa, nilai, dan tanggung jawab moral. Ketika seseorang menghormati dirinya, ia akan secara alami membangun batasan—bukan untuk menjauh dari dunia, tetapi untuk melindungi hal-hal yang dianggap suci dan bermakna. Batasan dalam kehidupan sosial sering disalahpahami sebagai tembok pemisah. Padahal, dalam banyak tradisi nilai, batasan justru berfungsi sebagai jembatan yang mengarahkan hubungan agar tetap berada dalam korid...

Menautkan Rasa Suka pada Jalan Ilahi

Menautkan Rasa Suka pada Jalan Ilahi Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari rasa suka. Suka terhadap sesuatu—baik itu harta, jabatan, ilmu, relasi, maupun hobi—adalah bagian dari fitrah yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Namun, rasa suka tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ketika seseorang melibatkan rasa sukanya karena Allah, maka segala aktivitas duniawi yang dijalani akan bernilai ibadah. Ia tidak hanya menikmati apa yang dicintainya, tetapi juga menata niat agar setiap langkahnya selaras dengan syariat dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, jika rasa suka dilepaskan dari bingkai keimanan, ia berpotensi berubah menjadi berlebihan. Nafsu diri akan mengambil alih kendali, menjadikan manusia terbuai oleh kenikmatan sesaat. Pada titik inilah pintu godaan setan terbuka lebar, mengarahkan manusia pada sikap lalai, sombong, dan jauh dari nilai-nilai ketakwaan. Rasa suka yang seharusnya menjadi sumber kebaikan justru d...

Membaca Kitab Kuning sebagai Pilar Peradaban Ilmu di Dunia Pesantren

Membaca Kitab Kuning sebagai Pilar Peradaban Ilmu di Dunia Pesantren Membaca kitab kuning merupakan tradisi yang sangat familiar dan mengakar kuat di dunia pesantren. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah proses pewarisan peradaban ilmu yang telah berlangsung selama berabad-abad. Di balik lembaran-lembaran kitab klasik yang ditulis tanpa harakat itu, tersimpan khazanah pemikiran ulama terdahulu yang menjadi rujukan utama dalam memahami ajaran Islam secara mendalam dan komprehensif. Bagi santri, ketekunan dalam mengkaji kitab kuning adalah wujud kesungguhan dalam menelusuri jejak intelektual para ulama. Setiap baris teks mengajarkan tidak hanya aspek keilmuan, tetapi juga nilai kesabaran, kedisiplinan, dan adab dalam menuntut ilmu. Proses membaca, memaknai, dan mendiskusikan isi kitab bersama kiai atau ustaz menjadi ruang pembentukan karakter yang membedakan pendidikan pesantren dari sistem pendidikan lainnya. Lebih dari itu, kitab kuning berperan sebagai jemb...

Di Antara Sesak dan Syukur: Hikmah Perjalanan Bersama Bus Harapan Jaya

Perjalanan saya dari Tulungagung menuju Trenggalek kali ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah pengalaman yang menyimpan banyak pelajaran. Saya menumpang Bus Harapan Jaya yang, pada hari itu, ditumpangi lebih dari 70 penumpang. Suasana di dalam bus terasa padat, bahkan cenderung sesak. Namun, di balik ruang yang terbatas itu, tersimpan kisah tentang kebersamaan, kesabaran, dan makna perjalanan itu sendiri. Sejak langkah pertama menaiki bus, saya langsung merasakan atmosfer yang berbeda. Bangku-bangku terisi penuh, lorong sempit dipenuhi tas dan barang bawaan, serta suara percakapan yang saling bersahutan. Ada ibu yang menenangkan anaknya, ada pekerja yang terlelap setelah seharian beraktivitas, dan ada pula mahasiswa yang sibuk dengan ponselnya. Dalam kepadatan itu, saya belajar bahwa setiap orang membawa cerita dan tujuan masing-masing, namun kami dipersatukan oleh satu arah perjalanan yang sama. Dari sisi kelebihan, Bus Harapan Jaya menawarkan kemudahan akses dan harga ...

Arsitektur Strategi: Merancang Visi-Misi Berbasis Bukti dan Antisipasi

Arsitektur Strategi: Merancang Visi-Misi Berbasis Bukti dan Antisipasi Dalam dinamika akademik dan kepemimpinan strategis, kemampuan untuk membangun sebuah konsep utuh yang terintegrasi dalam satu visi dan misi yang jelas merupakan penanda kematangan intelektual dan organisasional. Proses ini melampaui sekadar pernyataan ideal; ia adalah sebuah disiplin konstruksi logis yang melibatkan empat tahap kritis: merumuskan konsep perencanaan yang matang, menyusun strategi yang jitu, menyajikan data yang kongkret, dan memprediksi problem solving yang relevan. Keempat tahap ini membentuk sebuah siklus integral yang mengubah visi yang abstrak menjadi peta jalan yang dapat ditindaklanjuti dan dipertanggungjawabkan. Langkah pertama, merumuskan konsep perencanaan yang matang, adalah fondasi filosofis dan intelektual. Pada tahap ini, visi dan misi harus dijabarkan menjadi kerangka konseptual yang koheren. Perencanaan yang matang tidak dimulai dari aktivitas, tetapi dari pembingkaian masalah (probl...