Menautkan Rasa Suka pada Jalan Ilahi
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari rasa suka. Suka terhadap sesuatu—baik itu harta, jabatan, ilmu, relasi, maupun hobi—adalah bagian dari fitrah yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Namun, rasa suka tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ketika seseorang melibatkan rasa sukanya karena Allah, maka segala aktivitas duniawi yang dijalani akan bernilai ibadah. Ia tidak hanya menikmati apa yang dicintainya, tetapi juga menata niat agar setiap langkahnya selaras dengan syariat dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Sebaliknya, jika rasa suka dilepaskan dari bingkai keimanan, ia berpotensi berubah menjadi berlebihan. Nafsu diri akan mengambil alih kendali, menjadikan manusia terbuai oleh kenikmatan sesaat. Pada titik inilah pintu godaan setan terbuka lebar, mengarahkan manusia pada sikap lalai, sombong, dan jauh dari nilai-nilai ketakwaan. Rasa suka yang seharusnya menjadi sumber kebaikan justru dapat menjelma menjadi sebab keterpurukan, ketika tidak diiringi dengan kesadaran spiritual.
Oleh karena itu, keseimbangan menjadi kunci utama. Islam mengajarkan umatnya untuk mencintai dunia tanpa terjerat olehnya, dan mencintai akhirat tanpa mengabaikan tanggung jawab di dunia. Perkara dunia adalah sesuatu yang bisa saja telah kita miliki, belum kita raih, atau masih kita rencanakan untuk dicapai. Namun sejatinya, segala yang ada di dunia ini hanyalah titipan dari Allah SWT. Kesadaran ini menumbuhkan sikap rendah hati, tidak berlebihan dalam mengejar kepemilikan, serta senantiasa bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan.
Di sisi lain, mencintai perkara akhirat merupakan kebutuhan yang tidak kalah penting. Rasa cinta kepada nilai-nilai keimanan, ibadah, dan akhlak mulia berfungsi sebagai kompas yang menuntun arah hidup. Tanpa kompas tersebut, manusia akan mudah tersesat di tengah arus kehidupan yang penuh godaan dan distraksi. Ia mungkin tampak berhasil secara duniawi, namun kehilangan makna dan tujuan sejati dari keberadaannya di muka bumi.
Dengan menautkan rasa suka kepada Allah, manusia diajak untuk memandang hidup secara utuh. Setiap kesenangan duniawi tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi jembatan menuju kebahagiaan akhirat. Keseimbangan antara mencintai dunia dan mencintai akhirat inilah yang akan melahirkan pribadi yang matang secara spiritual dan bijak dalam menjalani kehidupan. Pada akhirnya, rasa suka bukan sekadar perasaan, tetapi amanah yang harus diarahkan agar mengantarkan manusia pada ridha Allah SWT dan keselamatan di dunia serta di akhirat.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih Sudah Berkunjung di Website Kami.