Adat setempat di Hari Asyura: Antara Ibadah dan Tradisi Syukur Masyarakat
Dalam dua hari terakhir, umat Islam memperingati hari-hari yang istimewa di bulan Muharam, yaitu Tasu'a dan Asyura. Tasu'a dikenal sebagai tanggal 9 Muharam, sedangkan Asyura adalah tanggal 10 Muharam. Kedua hari ini memiliki kedudukan khusus dalam tradisi Islam, yang ditandai dengan berbagai bentuk amal ibadah, seperti puasa, memperbanyak doa, dzikir, sedekah, dan amalan kebaikan lainnya.
Sebagai bagian dari masyarakat Muslim, kita tentu tidak asing dengan istilah Tasu'a dan Asyura. Rasulullah SAW menganjurkan puasa pada hari Asyura, bahkan menyertakannya dengan puasa Tasu'a sebagai pembeda dengan tradisi umat terdahulu. Namun demikian, dalam praktik kehidupan masyarakat, bentuk peribadatan dan amaliah yang dilakukan sering kali memiliki corak yang berbeda-beda sesuai dengan adat dan budaya setempat.
Pemandangan menarik saya jumpai ketika melintasi Desa Rejosari pada sore hari menjelang Asyura. Di beberapa titik, tepatnya pada dua pertigaan dan satu perempatan jalan, tampak warga berkerumun dengan membawa berbagai hidangan. Ada ambeng yang berisi nasi dan lauk-pauk, ayam panggang (ayam panggah), serta beberapa pincuk yang berisi aneka makanan hasil bumi. Suasana kebersamaan begitu terasa ketika masyarakat berkumpul untuk melaksanakan doa bersama.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di pertigaan, perempatan, maupun jalan-jalan kecil di lingkungan permukiman. Bagi sebagian masyarakat, tradisi ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan. Melalui doa bersama, mereka memohon keselamatan, keberkahan rezeki, serta perlindungan dari berbagai musibah. Hidangan yang dibawa kemudian dinikmati bersama sebagai simbol kebersamaan dan persaudaraan antarwarga.
Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal dapat berjalan beriringan. Di satu sisi, masyarakat tetap menjalankan amalan-amalan yang dianjurkan dalam agama. Di sisi lain, mereka juga mempertahankan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat, tradisi tersebut dapat menjadi sarana memperkuat ukhuwah, mempererat hubungan sosial, dan menumbuhkan rasa kepedulian antar sesama.
Suasana yang saya saksikan di Desa Rejosari memberikan makna tersendiri. Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, tradisi berkumpul, berdoa, dan berbagi makanan mengajarkan pentingnya kebersamaan. Hari Asyura tidak hanya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah secara personal, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat ikatan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, keberagaman ekspresi masyarakat dalam menyambut Tasu'a dan Asyura menunjukkan kekayaan khazanah Islam Nusantara. Tradisi syukur yang dilakukan warga Rejosari menjadi cerminan bahwa agama tidak hanya hadir dalam ritual individual, tetapi juga hidup dalam ruang-ruang sosial yang mempertemukan manusia dalam doa, syukur, dan kebersamaan.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih Sudah Berkunjung di Website Kami.