Membaca Kitab Kuning sebagai Pilar Peradaban Ilmu di Dunia Pesantren
Membaca kitab kuning merupakan tradisi yang sangat familiar dan mengakar kuat di dunia pesantren. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah proses pewarisan peradaban ilmu yang telah berlangsung selama berabad-abad. Di balik lembaran-lembaran kitab klasik yang ditulis tanpa harakat itu, tersimpan khazanah pemikiran ulama terdahulu yang menjadi rujukan utama dalam memahami ajaran Islam secara mendalam dan komprehensif.
Bagi santri, ketekunan dalam mengkaji kitab kuning adalah wujud kesungguhan dalam menelusuri jejak intelektual para ulama. Setiap baris teks mengajarkan tidak hanya aspek keilmuan, tetapi juga nilai kesabaran, kedisiplinan, dan adab dalam menuntut ilmu. Proses membaca, memaknai, dan mendiskusikan isi kitab bersama kiai atau ustaz menjadi ruang pembentukan karakter yang membedakan pendidikan pesantren dari sistem pendidikan lainnya.
Lebih dari itu, kitab kuning berperan sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi, pesantren tetap menjadikan kitab klasik sebagai fondasi, sembari membuka diri terhadap metode dan pendekatan baru dalam pembelajaran. Dengan demikian, santri tidak hanya mewarisi tradisi, tetapi juga mampu mengontekstualisasikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya untuk menjawab tantangan zaman.
Pada akhirnya, membaca kitab kuning bukan sekadar aktivitas membaca teks, melainkan sebuah ikhtiar melestarikan peradaban mulia. Ketekunan santri dalam mengkaji kitab-kitab tersebut adalah bukti nyata bahwa pesantren terus menjadi benteng keilmuan dan moral, yang menyiapkan generasi berilmu, berakhlak, dan berdaya guna bagi masyarakat luas. Tradisi ini, jika terus dirawat dan dikembangkan, akan tetap menjadi cahaya yang menerangi perjalanan umat di masa kini dan masa depan.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih Sudah Berkunjung di Website Kami.