Langsung ke konten utama

Postingan

UAS TARJAMAH 1 2026

  KERJAKAN SOAL BERIKUT DENGAN MENYERTAKAN REFERENSI DAN CONTOH :  DOWNLOAD UPLOAD JAWABAN ANDA DI LINK BERIKUT UPLOAD LINK

Jancuk sebagai Fenomena Linguistik dan Budaya dalam Masyarakat Jawa Timur: Tinjauan Penelitian Sosiolinguistik

  Jancuk sebagai Fenomena Linguistik dan Budaya dalam Masyarakat Jawa Timur: Tinjauan Penelitian Sosiolinguistik Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana ekspresi identitas, emosi, dan budaya suatu masyarakat. Dalam konteks masyarakat Jawa Timur, khususnya wilayah Surabaya dan sekitarnya, terdapat satu kata yang sangat populer dan memiliki makna sosial yang kompleks, yaitu "jancuk". Kata ini sering dianggap sebagai kata kasar atau umpatan, tetapi dalam praktik sosial sehari-hari memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar ekspresi kemarahan. Fenomena penggunaan kata jancuk telah menarik perhatian para peneliti bahasa, budaya, dan komunikasi karena menunjukkan bagaimana sebuah kata yang secara leksikal dianggap negatif dapat mengalami pergeseran makna dan fungsi sosial sesuai dengan konteks penggunaannya. Asal-usul dan Makna Kata Jancuk Secara etimologis, asal-usul kata jancuk masih menjadi perdebatan di kalangan peneliti. ...

Adat Setempat di Hari Asyura: Antara Ibadah dan Tradisi Syukur Masyarakat

Gambar : ilustrasi kegiatan Adat setempat di Hari Asyura: Antara Ibadah dan Tradisi Syukur Masyarakat Dalam dua hari terakhir, umat Islam memperingati hari-hari yang istimewa di bulan Muharam, yaitu Tasu'a dan Asyura. Tasu'a dikenal sebagai tanggal 9 Muharam, sedangkan Asyura adalah tanggal 10 Muharam. Kedua hari ini memiliki kedudukan khusus dalam tradisi Islam, yang ditandai dengan berbagai bentuk amal ibadah, seperti puasa, memperbanyak doa, dzikir, sedekah, dan amalan kebaikan lainnya. Sebagai bagian dari masyarakat Muslim, kita tentu tidak asing dengan istilah Tasu'a dan Asyura. Rasulullah SAW menganjurkan puasa pada hari Asyura, bahkan menyertakannya dengan puasa Tasu'a sebagai pembeda dengan tradisi umat terdahulu. Namun demikian, dalam praktik kehidupan masyarakat, bentuk peribadatan dan amaliah yang dilakukan sering kali memiliki corak yang berbeda-beda sesuai dengan adat dan budaya setempat. Pemandangan menarik saya jumpai ketika melintasi Desa Rejosari pada s...

Menulis untuk Mengabdi: Membangun Budaya Karya Ilmiah bagi Dosen Pemula

  Menulis untuk Mengabdi: Membangun Budaya Karya Ilmiah bagi Dosen Pemula Refleksi Materi Penulisan Karya Ilmiah oleh Prof. Dr. H. Ngainun Naim, M.H.I. dalam Agenda Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) 2026 Salah satu kompetensi mendasar yang harus dimiliki seorang dosen adalah kemampuan menghasilkan karya ilmiah. Dalam agenda Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) Tahun 2026, Prof. Dr. H. Ngainun Naim, M.H.I. memberikan penguatan mengenai pentingnya penulisan karya ilmiah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari profesi dosen. Menurut beliau, tugas dosen tidak berhenti pada aktivitas mengajar di kelas, tetapi juga mencakup penelitian dan publikasi ilmiah sebagai bentuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kontribusi kepada masyarakat. Beliau menegaskan bahwa menulis artikel jurnal merupakan kewajiban setiap dosen. Idealnya, seorang dosen melakukan penelitian secara berkala dan menghasilkan minimal satu artikel jurnal setiap tahun. Artikel jurnal merupakan luaran penelitia...

PARADIGMA INTEGRASI KEILMUAN : Refleksi Materi Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula Tahun 2026

PARADIGMA INTEGRASI KEILMUAN : Refleksi Materi Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula Tahun 2026 Materi Paradigma Integrasi Keilmuan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Muntahibun Nafis, M.Ag. dalam kegiatan Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula Tahun 2026 memberikan pemahaman yang mendalam mengenai pentingnya membangun hubungan yang harmonis antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. Materi ini menjadi sangat relevan dalam konteks pendidikan tinggi keagamaan Islam (PTKI) yang saat ini menghadapi berbagai tantangan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta dinamika sosial masyarakat yang semakin kompleks. Salah satu isu utama yang dibahas adalah adanya dikotomi keilmuan yang selama ini memisahkan ilmu agama dan ilmu umum. Dikotomi tersebut tidak hanya terlihat dalam struktur kelembagaan pendidikan, tetapi juga memengaruhi cara berpikir peserta didik dan akademisi. Akibatnya, sering muncul pemisahan antara nalar teologis dan nalar saintifik yang berpotensi melahirkan dualisme intelektu...

Menjadi Dosen Unggul dan Berdaya Saing Global: Refleksi Materi Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A.

Menjadi Dosen Unggul dan Berdaya Saing Global: Refleksi Materi Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A. Dalam agenda Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP), peserta memperoleh wawasan yang sangat berharga dari Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia. Beliau menekankan bahwa tantangan pendidikan tinggi di era global menuntut dosen untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik dalam aspek akademik, penelitian, maupun jejaring internasional. Menurut beliau, seorang dosen harus memiliki kedalaman keilmuan yang mumpuni. Kedalaman ilmu menjadi fondasi utama dalam menjalankan tugas sebagai pendidik, peneliti, dan pengabdi kepada masyarakat. Dosen tidak cukup hanya menguasai pengetahuan pada tingkat dasar, tetapi harus mampu menjadi rujukan akademik dalam bidang keahliannya. Oleh karena itu, proses belajar tidak boleh berhenti setelah seseorang menjadi dosen. Justru status sebagai dosen menuntut pembelajaran yang lebih intensif dan ...

Merancang Pembelajaran Berdampak Melalui OBE: Refleksi Sesi Perencanaan Pembelajaran Bersama Dr. Maryono, M.Pd.

Merancang Pembelajaran Berdampak Melalui OBE: Refleksi Sesi Perencanaan Pembelajaran Bersama Dr. Maryono, M.Pd. Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) menjadi momentum penting bagi para dosen untuk memperkuat kompetensi pedagogik, khususnya dalam merancang pembelajaran yang efektif, terukur, dan berorientasi pada capaian. Dalam salah satu sesi pelatihan, Dr. Maryono, M.Pd., dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, menyampaikan materi tentang Perencanaan Pembelajaran dengan fokus pada implementasi Outcome Based Education (OBE) dalam pendidikan tinggi. Pada sesi tersebut, Dr. Maryono menegaskan bahwa keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dosen dalam menyampaikan materi, tetapi juga oleh kualitas perencanaan yang disusun sebelum perkuliahan berlangsung. Perencanaan pembelajaran merupakan fondasi utama yang menentukan arah, strategi, metode, serta capaian yang ingin diwujudkan dalam proses pendidikan. Beliau menjelaskan bahwa paradigma pendidikan t...

Moderasi Beragama dan Masa Depan Indonesia: Refleksi Materi PKDP Bersama Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag.

Moderasi Beragama dan Masa Depan Indonesia: Refleksi Materi PKDP Bersama Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) pada Sabtu, 20 Juni 2026, menghadirkan narasumber nasional, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam sesi yang mengangkat tema Moderasi Beragama, beliau mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa moderasi beragama bukan sekadar program pemerintah, melainkan kebutuhan mendasar bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Di awal penyampaiannya, Prof. Zainul  menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya dalam mengelola keberagaman. Indonesia merupakan bangsa yang dibangun di atas fondasi kemajemukan agama, budaya, suku, dan bahasa. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi instrumen penting untuk menjaga persatuan dan menghindarkan bangsa dari berbagai be...

Moderasi Beragama sebagai Pilar Harmoni Bangsa: Membangun Sikap Inklusif di Tengah Keberagaman

Moderasi Beragama sebagai Pilar Harmoni Bangsa: Membangun Sikap Inklusif di Tengah Keberagaman Kegiatan Pelatihan Keterampilan Dasar Pendidikan (PKDP) yang diselenggarakan di Hotel Crown Tulungagung menghadirkan Dr. Eko Siswanto, M.H.I. sebagai narasumber pada sesi Moderasi Beragama. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi utama dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan kehidupan berbangsa di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Berbekal pengalaman lebih dari dua belas tahun sebagai pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Papua, tiga tahun di FKUB Tulungagung, serta keterlibatan dalam Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Dr. Eko Siswanto memberikan perspektif yang komprehensif mengenai dinamika kehidupan keagamaan di Indonesia. Menurutnya, moderasi beragama bukanlah upaya untuk mengurangi keyakinan seseorang terhadap agamanya, melainkan cara beragama yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan te...

Dari Budaya Scroll Menuju Budaya Tumbuh: Melampaui Diri di Era Digital

Dari Budaya Scroll Menuju Budaya Tumbuh: Melampaui Diri di Era Digital Pendahuluan Era digital telah menghadirkan kemudahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Melalui satu genggaman tangan, seseorang dapat mengakses informasi, hiburan, berita, bahkan kehidupan pribadi orang lain hanya dengan menggeser layar ke atas dan ke bawah. Aktivitas yang dikenal dengan istilah scrolling kini telah menjadi bagian dari rutinitas harian jutaan orang. Status media sosial, video pendek, dan berbagai konten digital terus mengalir tanpa henti. Di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin mengkhawatirkan, yaitu menurunnya produktivitas, berkurangnya daya fokus, dan meningkatnya kecenderungan untuk menunda pekerjaan. Banyak individu menghabiskan berjam-jam untuk melihat kehidupan orang lain tanpa menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi dirinya sendiri. Budaya scroll perlahan menggeser budaya berkarya. Pertanyaannya, sampai kapan kita menjadi penonton dalam kehidupan o...