Langsung ke konten utama

Postingan

Alur Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) Bahasa Arab Ekonomi

ALUR CPMK DAN RPS 1 Pada mata kuliah Bahasa Arab Ekonomi  yang memadukan empat kompetensi: pemahaman teks ( قراءة ), kosakata ( مفردات ), tata bahasa ( نحو ), dan pemahaman konsep ekonomi Islam ( محتوى تخصصي ). Berikut alur CPMK dan alur RPS yang dapat digunakan. ALUR CPMK  Mata Kuliah: Bahasa Arab Ekonomi  Pertemuan 1: التَّعْرِيفُ بِالِاقْتِصَادِ الإِسْلَامِيِّ CPL Prodi  Menguasai konsep dasar ekonomi Islam. Menguasai keterampilan bahasa Arab dalam bidang ekonomi Islam. Mampu menganalisis teks Arab sesuai kaidah nahwu dan sharaf. Mampu mengkomunikasikan konsep ekonomi Islam secara lisan dan tulisan. CPMK Mahasiswa mampu memahami, menerjemahkan, menganalisis, dan menjelaskan teks berbahasa Arab tentang pengertian ekonomi Islam beserta sumber, karakteristik, tujuan, dan kaidah kebahasaan yang terdapat di dalamnya secara tepat.   Sub-CPMK Sub-CPMK 1 Mahasiswa mampu membaca teks tentang ekonomi Islam dengan makhr...

Menimba Hikmah dari Tanah Suci: Silaturahmi dan Ziarah Haji ke Kediaman Prof. Dr. Ngainun Naim

Menimba Hikmah dari Tanah Suci: Silaturahmi dan Ziarah Haji ke Kediaman Prof. Dr. Ngainun Naim Pada hari Senin pukul 19.30 WIB, saya berkesempatan melakukan kunjungan silaturahmi sekaligus ziarah haji ke kediaman Prof. Dr. Ngainun Naim setelah beliau kembali dari menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Kunjungan ini menjadi momen yang sangat berharga karena selain untuk menyampaikan ucapan selamat atas kepulangan beliau, juga untuk mendengarkan secara langsung pengalaman spiritual dan perjalanan ibadah yang beliau jalani selama berada di Arab Saudi. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan tersebut, kami terlebih dahulu menanyakan keadaan dan kondisi kesehatan beliau setelah pulang dari ibadah haji. Prof. Dr. Ngainun Naim menyampaikan rasa syukur karena dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dengan lancar serta kembali ke tanah air dalam keadaan sehat. Beliau juga menceritakan berbagai pengalaman yang diperoleh selama menjalankan ibadah di Tanah Suci, mul...

Penyesalan yang Terus Menghantui Masa Depan

  Penyesalan yang Terus Menghantui Masa Depan Ada luka yang sembuh seiring waktu, namun ada pula luka yang tetap meninggalkan bekas meskipun telah lama berlalu. Bekas itu bernama penyesalan. Ia tidak selalu datang dengan suara keras, tetapi sering hadir dalam kesunyian malam, ketika semua kesibukan berhenti dan hati mulai berbicara kepada dirinya sendiri. Salah Langkah Hidup adalah perjalanan yang dipenuhi pilihan. Tidak semua pilihan yang diambil berakhir dengan kebaikan. Ada masa ketika langkah kaki berjalan ke arah yang salah. Salah memilih teman, salah memilih lingkungan, dan salah memilih jalan hidup. Pergaulan yang tidak sehat perlahan mengubah cara berpikir dan mempengaruhi tindakan. Apa yang awalnya dianggap biasa ternyata membawa kepada perbuatan-perbuatan yang menjauhkan diri dari Allah. Saat itu mungkin terasa indah, menyenangkan, bahkan memberikan kebanggaan sesaat. Namun waktu menunjukkan bahwa kesenangan yang dibangun di atas kemaksiatan hanya menyisakan kehampaan. Ba...

INTISARI PIDATO REKTOR UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG

INTISARI PIDATO REKTOR UIN SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 Tema: "Falsafah Jawa dalam Membangun Kampus Dakwah dan Peradaban" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil 'alamin, puji syukur ke hadirat Allah SWT. Pada momentum Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, marilah kita meneguhkan kembali komitmen kebangsaan dan keislaman dalam membangun UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung sebagai kampus dakwah dan peradaban yang berakar pada nilai-nilai luhur bangsa. Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga pedoman moral yang mengajarkan ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan kearifan lokal masyarakat Jawa yang selama berabad-abad membentuk karakter bangsa Indonesia. Dalam membangun UIN SATU Tulungagung, terdapat lima falsafah Jawa yang perlu menjadi ruh gerakan bersama: 1. Sumeleh (Ikhlas) Sumeleh adalah sikap menyerahkan hasil terbaik k...

Kedalaman Berpikir dan Esensi Kehadiran Manusia di Tengah Budaya Penampilan

Kedalaman Berpikir dan Esensi Kehadiran Manusia di Tengah Budaya Penampilan Pendahuluan Di tengah dunia yang semakin menekankan citra visual, manusia kerap dinilai dari apa yang tampak, bukan dari apa yang ada di dalam dirinya. Penampilan menjadi simbol status, bahkan dianggap sebagai representasi dari kualitas diri. Namun, di balik dominasi budaya tersebut, terdapat individu-individu yang justru memilih jalan berbeda—menyelami kedalaman berpikir, merenungi makna hidup, dan pada akhirnya lebih fokus pada esensi keberadaannya daripada sekadar tampilan luar. Fenomena ini bukan sekadar sikap acuh terhadap penampilan, melainkan refleksi dari perubahan orientasi hidup. Mereka yang berpikir mendalam tidak lagi menjadikan penampilan sebagai pusat perhatian, melainkan sebagai aspek sekunder yang tidak menentukan nilai sejati manusia. Kedalaman Berpikir dalam Perspektif Para Ulama Dalam tradisi Islam, kedalaman berpikir telah lama menjadi bagian dari jalan menuju kebijaksanaan. Al-Ghazali dala...

Begitu Singkat Hidup Ini, Buatlah Barokah Setiap Detiknya

Begitu Singkat Hidup Ini, Buatlah Barokah Setiap Detiknya Hidup manusia di dunia sejatinya sangatlah singkat. Waktu yang kita miliki bagaikan embusan angin yang cepat berlalu, tanpa terasa telah meninggalkan jejak usia yang semakin berkurang. Banyak manusia terlena dengan gemerlap dunia, seakan hidup ini panjang dan tidak akan berakhir. Padahal, kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an: > كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ > “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” > (QS. Ali Imran: 185) Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menghindar dari kematian, baik ia kaya maupun miskin, muda maupun tua. Oleh karena itu, setiap detik yang kita miliki adalah kesempatan emas untuk berbuat kebaikan. Rasulullah ﷺ juga bersabda: > “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum m...

Idul Fitri di Era Trump: Pengaruh Kebijakan Global terhadap Ekonomi Lebaran Indonesia

  Idul Fitri di Era Trump: Pengaruh Kebijakan Global terhadap Ekonomi Lebaran Indonesia Oleh: Muh. Habibulloh (edukita) Tulungagung, 6 Maret 2026 – Idul Fitri 1447 H yang diprediksi jatuh pada 20-21 Maret 2026 menjadi momen suci umat Islam untuk memaafkan dan bersyukur. Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan mudik dan pembagian THR, bayang-bayang kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump mengancam geliat ekonomi Lebaran Indonesia. Tarif impor resiprokal hingga 32% (kini 19% pasca-negosiasi) terhadap produk ekspor kita seperti elektronik, alas kaki, dan tekstil berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi hingga 4,7% pada 2026, menurut proyeksi AMRO. kafe-alumni-feb-unsoed +1 Kebijakan Trump ini bukan sekadar urusan dagang lintas benua. Ia langsung menyengat sektor UMKM dan industri halal yang jadi tulang punggung Lebaran. "Permintaan ekspor ke AS menurun karena harga naik, neraca perdagangan terganggu, dan rupiah terdepresiasi," ujar ekonom UGM Muhammad Edhie Purnawa...

Menjaga Kehormatan di Tengah Dunia yang Terbuka

Menjaga Kehormatan di Tengah Dunia yang Terbuka Di era ketika dunia semakin terbuka, batas antara yang pribadi dan yang publik kian menipis. Teknologi, media sosial, dan budaya global mendorong manusia untuk menampilkan dirinya tanpa sekat. Dalam arus keterbukaan ini, muncul satu pertanyaan mendasar: di manakah letak kehormatan manusia, dan bagaimana cara menjaganya? Kehormatan bukanlah sesuatu yang melekat pada penampilan luar semata, melainkan tumbuh dari cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ia berakar pada kesadaran bahwa manusia bukan sekadar tubuh, tetapi juga jiwa, nilai, dan tanggung jawab moral. Ketika seseorang menghormati dirinya, ia akan secara alami membangun batasan—bukan untuk menjauh dari dunia, tetapi untuk melindungi hal-hal yang dianggap suci dan bermakna. Batasan dalam kehidupan sosial sering disalahpahami sebagai tembok pemisah. Padahal, dalam banyak tradisi nilai, batasan justru berfungsi sebagai jembatan yang mengarahkan hubungan agar tetap berada dalam korid...

Menautkan Rasa Suka pada Jalan Ilahi

Menautkan Rasa Suka pada Jalan Ilahi Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari rasa suka. Suka terhadap sesuatu—baik itu harta, jabatan, ilmu, relasi, maupun hobi—adalah bagian dari fitrah yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Namun, rasa suka tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ketika seseorang melibatkan rasa sukanya karena Allah, maka segala aktivitas duniawi yang dijalani akan bernilai ibadah. Ia tidak hanya menikmati apa yang dicintainya, tetapi juga menata niat agar setiap langkahnya selaras dengan syariat dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, jika rasa suka dilepaskan dari bingkai keimanan, ia berpotensi berubah menjadi berlebihan. Nafsu diri akan mengambil alih kendali, menjadikan manusia terbuai oleh kenikmatan sesaat. Pada titik inilah pintu godaan setan terbuka lebar, mengarahkan manusia pada sikap lalai, sombong, dan jauh dari nilai-nilai ketakwaan. Rasa suka yang seharusnya menjadi sumber kebaikan justru d...

Membaca Kitab Kuning sebagai Pilar Peradaban Ilmu di Dunia Pesantren

Membaca Kitab Kuning sebagai Pilar Peradaban Ilmu di Dunia Pesantren Membaca kitab kuning merupakan tradisi yang sangat familiar dan mengakar kuat di dunia pesantren. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah proses pewarisan peradaban ilmu yang telah berlangsung selama berabad-abad. Di balik lembaran-lembaran kitab klasik yang ditulis tanpa harakat itu, tersimpan khazanah pemikiran ulama terdahulu yang menjadi rujukan utama dalam memahami ajaran Islam secara mendalam dan komprehensif. Bagi santri, ketekunan dalam mengkaji kitab kuning adalah wujud kesungguhan dalam menelusuri jejak intelektual para ulama. Setiap baris teks mengajarkan tidak hanya aspek keilmuan, tetapi juga nilai kesabaran, kedisiplinan, dan adab dalam menuntut ilmu. Proses membaca, memaknai, dan mendiskusikan isi kitab bersama kiai atau ustaz menjadi ruang pembentukan karakter yang membedakan pendidikan pesantren dari sistem pendidikan lainnya. Lebih dari itu, kitab kuning berperan sebagai jemb...