Langsung ke konten utama

Menapaki Petang dengan Harapan

Menapaki Petang dengan Harapan

Ada cerita sederhana yang berulang setiap sore, tetapi tak pernah benar-benar terasa sama. Tentang perjalanan pulang setelah seharian bekerja, tentang langkah kaki menuju terminal, tentang bus yang ditunggu, dan tentang harapan-harapan kecil yang ikut duduk diam di antara lelahnya tubuh dan riuhnya pikiran. Bagi sebagian orang, pulang kerja mungkin sekadar berpindah dari tempat kerja menuju rumah. Namun, bagiku, pulang adalah sebuah perjalanan yang mengajarkan kesabaran, keteguhan, dan cara berdamai dengan keadaan.

Usai menuntaskan pekerjaan, aku segera bergegas menuju terminal. Ada satu teman perjalanan yang seolah telah menjadi bagian dari rutinitas soreku: **Bus Harapan Jaya**. Namanya terasa begitu akrab, bahkan seakan menyimpan makna tersendiri dalam setiap perjalanan. Harapan Jaya bukan sekadar bus yang mengantarkanku pulang, melainkan teman setia yang kutunggu di antara kesibukan terminal, suara kendaraan, dan orang-orang yang sama-sama ingin segera sampai di tujuan.

Di terminal, aku belajar menunggu dengan santai dan penuh kepastian. Tak perlu terlalu gelisah, tak perlu pula terus-menerus melihat jam seolah waktu bisa dipercepat hanya dengan tatapan. Aku berusaha menikmati setiap detik yang ada. Terkadang, menunggu memang terasa membosankan, tetapi ada ketenangan tersendiri ketika kita mulai menerima bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya kita hanya perlu duduk, menarik napas, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang, dan membiarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya.

Meski demikian, di balik sikap santai itu, sesungguhnya ada sedikit pergulatan yang tak selalu terlihat. Perjalanan pulang membutuhkan waktu sekitar satu jam, sementara waktu Magrib dan Isya sering kali berdekatan dengan jadwal keberangkatan maupun perjalanan. Di sinilah ekspektasi mulai bermain. Aku berharap bisa segera mendapatkan bus, tiba di rumah tepat waktu, dan tetap menjalankan ibadah tanpa tergesa-gesa. Namun, kenyataan tidak selalu sesederhana rencana yang tersusun di kepala.

Ada sore ketika aku menghitung-hitung waktu dengan cermat. Jika bus datang sekarang, mungkin perjalanan masih bisa diatur. Jika berangkat sedikit terlambat, waktu Magrib dan Isya akan terasa semakin mepet. Pikiran pun mulai dipenuhi berbagai kemungkinan: apakah sebaiknya segera naik bus, bagaimana mengatur waktu salat, dan mungkinkah sampai di rumah tanpa harus terburu-buru? Begitulah perjalanan pulang kadang menghadirkan pelajaran tentang mengelola ekspektasi. Kita boleh merencanakan banyak hal, tetapi tetap harus menyediakan ruang bagi kenyataan yang tidak selalu bisa dikendalikan.

Namun, ada satu hal yang harus tetap menjadi pegangan: **jangan sampai keinginan mengejar bus membuat kita mengesampingkan kewajiban salat.** Bus bisa datang lagi, perjalanan bisa dilanjutkan pada kesempatan berikutnya, tetapi waktu ibadah perlu dijaga dengan sungguh-sungguh. Bagiku, memilih untuk menunaikan salat terlebih dahulu bukan berarti mengabaikan perjalanan, melainkan menempatkan sesuatu pada urutannya yang tepat. Sebab, pulang bukan hanya tentang sampai di rumah, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga tanggung jawab kepada Tuhan di tengah kesibukan dunia.

Pemahaman itu terasa semakin nyata ketika suatu sore aku ketinggalan bus pukul 17.00. Ada sedikit rasa kecewa, tentu saja. Bayangan tentang perjalanan yang segera dimulai harus ditunda, sedangkan waktu terus berjalan. Akan tetapi, setelah melewati beberapa kali pengalaman serupa, aku mulai memahami bahwa tidak semua keterlambatan layak disambut dengan kegelisahan. Terkadang, kehilangan satu kesempatan justru memberi kita ruang untuk beristirahat, berbincang, dan menikmati hal-hal sederhana yang selama ini terlewatkan.

Ketika bus pukul 17.00 sudah berangkat tanpa sempat kutumpangi, pilihan berikutnya ternyata tidak selalu harus berupa keluh kesah. **Ngopi bersama rekan kerja menjadi solusi sederhana yang menyenangkan saat ketinggalan bus.** Secangkir kopi, obrolan ringan, dan tawa kecil di antara teman-teman mampu mengubah suasana yang semula terasa mengecewakan menjadi lebih hangat. Kami berbincang tentang pekerjaan, kehidupan, dan berbagai cerita sehari-hari. Tanpa disadari, waktu yang tadinya dianggap terbuang justru menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan.

Di meja kopi itu, aku kembali belajar bahwa hidup tidak selalu harus dikejar dengan tergesa-gesa. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, bukan karena menyerah, melainkan untuk memberi ruang bagi diri sendiri agar tetap tenang. Ketinggalan bus bukan akhir dari perjalanan. Ia hanya jeda kecil yang mengingatkan bahwa hidup tidak sepenuhnya berjalan menurut jadwal yang kita inginkan.

Barangkali, inilah makna menapaki petang dengan harapan. Harapan bukan sekadar keinginan agar bus segera datang, perjalanan berlangsung lancar, atau kita lekas tiba di rumah. Harapan juga berarti kemampuan untuk tetap tenang ketika rencana berubah, tetap bersyukur ketika harus menunggu, dan tetap teguh menjaga prioritas di tengah berbagai keterbatasan.

Setiap sore, ketika kembali berdiri di terminal dan menanti Harapan Jaya, aku seperti sedang mengulang pelajaran kehidupan. Bahwa kesabaran tidak selalu lahir dari keadaan yang nyaman. Bahwa ketenangan bukan berarti tidak memiliki kekhawatiran. Dan bahwa kedewasaan sering kali tumbuh ketika kita mampu menerima sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapan tanpa kehilangan arah dan prinsip.

Pada akhirnya, perjalanan pulang mengajarkanku bahwa tujuan memang penting, tetapi cara kita menempuh perjalanan juga tak kalah berarti. Tidak masalah jika sesekali harus menunggu lebih lama. Tidak mengapa jika bus yang diharapkan ternyata sudah berangkat. Selama kita masih memiliki waktu untuk memperbaiki rencana, kesempatan untuk menunaikan kewajiban, dan teman untuk berbagi cerita, selalu ada alasan untuk menikmati perjalanan.

Sebab, petang bukan hanya tentang berakhirnya hari kerja. Petang adalah ruang untuk merenung, bersyukur, dan mengumpulkan kembali harapan yang mungkin sedikit lelah setelah seharian berjuang.

Dan esok sore, ketika pekerjaan kembali usai, aku mungkin akan kembali menuju terminal, duduk dengan santai, lalu menanti bus Harapan Jaya seperti biasa. Bukan semata-mata karena ingin segera sampai di rumah, melainkan karena aku telah memahami satu hal sederhana: **perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang selalu tepat waktu, melainkan perjalanan yang membuat kita tetap menjaga iman, merawat kebersamaan, dan memelihara harapan, apa pun yang terjadi di sepanjang jalan.**


Komentar

  1. I’m happy to read your words. Every experience happens for a reason, and there is always a lesson to be learned from it. Thank you for all the inspiration.☺️

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih Sudah Berkunjung di Website Kami.

Postingan populer dari blog ini

Administrasi Perkuliahan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Tahun Akademik 2025/2026 Semester Ganjil

  Berikut Administrasi Perkuliahan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Tahun Akademik 2025/2026 Semester Ganjil : Program Studi Perbankan Syariah (PS) 1B a.       FEBI1246001 – Bahasa Arab Ekonomi (2 SKS)  1)         Daftar Hadir   //   ABSEN                                 2)         Kontrak Perkuliahan // DOWNLOAD                       3)         RPS   // DOWNLOAD                                       4)         Mod...

DAFTAR SUBMIT JURNAL FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

  BERIKUT DAFTAR SUBMIT JURNAL FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Jurnal Akses Terbuka Gratis di Indonesia dan Internasional No Nama Jurnal Keterangan relevansi & catatan penting 1 GHAITSA: Islamic Education Journal Jurnal Islam, menyediakan akses bebas dan permanen ke artikel-artikelnya. ( Siducat ) 2 ISEDU: Islamic Education Journal Membuka akses bebas, tanpa biaya atau hambatan teknis untuk pembaca. ( Jurnal Kalimasada ) 3 Islamic Perspective on Educational Science Terbit 2 kali/tahun, tema termasuk filsafat pendidikan Islam, psikologi pendidikan, dsb. Gratis untuk pembaca. ( esi.isu.ac.ir ) 4 Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism Fokus pada filsafat Islam & mistisisme. Akses penuh tanpa biaya. ( Jurnal Sadra ) 5 Journal of Islamic Education...

DAFTAR SUBMIT JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN HADIS

DAFTAR SUBMIT JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN HADIS :  Berikut beberapa rumah jurnal gratis atau open access journals yang fokus atau menerima kajian tentang Al-Qur’an dan Hadis: Daftar Jurnal Gratis / Open Access tentang Studi Al-Qur’an dan Hadis No Nama Jurnal Keterangan / Penerbit / Link 1 AL QUDS: Jurnal Studi Alquran dan Hadis Biannual, peer review; fokus studi Al-Qur’an dan Hadis. ( Rumah Jurnal IAIN Curup ) 2 Mashdar: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Hadis Open Access (licence CC-BY-SA 4.0), UIN Imam Bonjol Padang. ( E-Journal UIN IB ) 3 Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Ilmu al-Qur’an & Tafsir Dept, UIN Syekh Nurjati Cirebon, SINTA 4. ( Jurnal Syekh Nurjati ) 4 Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur’an dan Hadits STIQ Amuntai, Kalsel. ( Jurnal STIQ Amuntai ) 5 Al-Misbah: Journal of Quran, Hadith and Tafsir Studies STAI-PIQ Sumatera Barat. ( ejournal.staipiq.ac.id ) 6 Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis Prodi Ilmu Al-Qur’an dan...