Menapaki Pagi Menuju Grand Rohan: Perjalanan menghadiri Incoils 2025"
Berangkat dari kampus UIN Satu Tulungagung pada pukul 05.20 WIB, pagi itu masih menyimpan sunyi. Udara terasa lembut, menyentuh kulit dengan sejuk yang tidak menusuk, justru mengantar semangat perjalanan menuju agenda Incoils ke-5 tahun 2025 di Grand Rohan Hotel Yogyakarta. Matahari belum sepenuhnya datang, namun cahaya samar jingga mulai menyibak tirai malam, seperti memberi restu pada langkah kami. Jalanan masih lengang, hanya ditemani sedikit kendaraan yang melintas pelan, seolah perjalanan ini disiapkan khusus tanpa hiruk pikuk.
Di dalam kendaraan, suasana perlahan hidup. Beberapa dosen mulai membuka percakapan ringan. Ada yang tertawa pelan sambil menikmati bekal teh hangat,kopi, ada pula yang memilih memejamkan mata sejenak, menyimpan tenaga untuk pertemuan panjang yang menanti. Di antara senyap dan obrolan kecil itu, terasa ada nuansa kebersamaan yang hangat—campuran antara profesionalitas dan kekeluargaan.
Sekitar beberapa jam perjalanan, tibalah kami di Warung Makan Taman Sari Ngawi untuk sarapan. Dari luar, tempat itu tampak sederhana namun penuh kehijauan. Pohon rambat menyelimuti sebagian dinding, seolah alam sengaja hadir untuk menyapa tamu yang lelah perjalanan. Ketika melangkah masuk, suasana asri langsung terasa: meja kayu berwarna cokelat tua, ornamen dedaunan yang rapi menghiasi tembok, serta udara dingin dari AC yang membuat ruangan begitu nyaman, menenangkan, dan seolah memeluk tubuh yang mulai letih.
Sarapan pagi itu tidak sekadar mengisi perut, tetapi juga mengisi ruang batin dengan tawa dan cerita. Ketika piring-piring mulai tersaji—ada nasi ,ayam,tempe goreng, soto, dan pilihan menu sederhana lainnya—pembicaraan pun mengalir seperti sungai kecil. Topik ringan muncul: cuaca, kebiasaan tidur, hingga pengalaman lainnya. Lalu, seperti ⁸karakter alami para akademisi, obrolan perlahan bergeser ke ranah yang lebih serius namun tetap hangat: penelitian terbaru, rencana publikasi jurnal, hingga wacana pengabdian masyarakat.
Ada yang menjelaskan temuan lapangannya dengan antusias, ada juga yang menimpali dengan analisis kritis namun tetap bersahaja. Suasana menjadi hidup, dengan tawa, gurauan, dan diskusi reflektif. Namun meski pembahasan ilmiah muncul, suasananya jauh dari kaku. Tidak ada formalitas podium. Semua mengalir seperti keluarga yang bertukar gagasan di tengah kebersamaan.
Pemandangan di luar jendela memperkuat keindahan pagi itu—cahaya matahari mulai turun menembus celah dedaunan, menari pelan di lantai keramik, menciptakan nuansa syahdu yang sulit dijelaskan dengan kata. Saat sendok dan garpu berdenting pelan, hati terasa ringan dan perjalanan ini seolah menjadi ritual kebersamaan yang berharga.
Usai sarapan, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Grand Rohan Hotel Yogyakarta. Bus kembali menyusuri jalan panjang yang menghubungkan kota ke kota, mendekatkan kami pada tujuan yang telah lama direncanakan. Di luar jendela, sawah-sawah hijau terbentang seperti permadani alam, rumah-rumah kecil berdiri dengan ketenangan, dan langit menjelma luas, biru, penuh harapan.
Perlahan, Yogyakarta mulai mendekat. Papan penunjuk jalan, bangunan-bangunan khas, dan kesan budaya yang kuat mengantar kami memasuki kota penuh sejarah itu. Seakan Yogyakarta menunggu dengan sabar, membawa energi yang berbeda—lebih hidup, lebih hangat, namun tetap penuh ketenangan yang khas.



Komentar
Posting Komentar
Terimakasih Sudah Berkunjung di Website Kami.