Simpan Amalmu yang Baik untuk Akhiratmu
Pada salah satu bangku di dalam bus Harapan Jaya, tertempel sebuah tulisan sederhana: “Simpan karcis sebagai bukti pembayaran yang sah.”
Sekilas, kalimat itu hanya pengingat biasa bagi penumpang agar tidak kehilangan haknya sebagai pengguna jasa transportasi. Namun, bila direnungkan lebih dalam, tulisan itu mengandung makna yang sangat dalam tentang perjalanan hidup manusia — bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain, tetapi perjalanan dari dunia menuju akhirat.
Kita semua adalah penumpang dalam bus kehidupan. Dunia hanyalah lintasan, sedangkan tujuan akhirnya adalah akhirat. Dalam perjalanan itu, setiap amal baik yang kita lakukan ibarat **karcis** yang harus disimpan rapi — bukti bahwa kita telah “membayar” perjalanan ini dengan amal saleh. Sebagaimana karcis menjadi tanda sah bahwa seseorang berhak sampai ke tujuan dengan aman, demikian pula amal baik menjadi bukti sah di hadapan Allah bahwa kita layak memperoleh keselamatan di akhirat.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”* (QS. Az-Zalzalah: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada amal yang sia-sia. Semua tercatat, sebagaimana nomor karcis yang tak mungkin tertukar. Setiap senyum tulus, sedekah kecil, atau doa yang lirih di malam hari akan menjadi catatan amal yang kelak kita perlihatkan sebagai “bukti pembayaran yang sah” menuju surga.
Namun, banyak manusia yang lalai. Mereka menikmati perjalanan dunia dengan santai, tanpa memikirkan apakah telah menyimpan “karcis amal”-nya dengan benar. Ada yang sibuk mengumpulkan harta, mengejar pangkat, atau mencari pujian, hingga lupa bahwa tiket kehidupan ini memiliki batas waktu. Ketika bus kehidupan berhenti di terminal terakhir — yakni kematian — semua kesenangan dunia akan tertinggal. Saat itulah yang berharga hanyalah amal baik yang disimpan dengan ikhlas.
Rasulullah ï·º bersabda:
> *“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat.”*
> Dari ladang itulah kita menanam amal, menyiraminya dengan keikhlasan, dan memanennya di hari pembalasan kelak. Maka, sebagaimana kita menjaga karcis agar tidak hilang selama di perjalanan, jagalah pula amal kebaikan agar tidak rusak oleh riya’, sombong, atau penyesalan di kemudian hari.
Tulisan sederhana di bangku bus itu seakan berbisik: *“Jangan lupa simpan bukti perjalananmu.”* Dan seharusnya, hati kita pun selalu mengingat pesan serupa — *“Simpan amal baikmu untuk akhiratmu.”*
Sebab, di akhir perjalanan nanti, setiap amal akan menjadi tiket menuju tempat terbaik yang dijanjikan Allah, tempat peristirahatan yang abadi setelah perjalanan panjang bernama kehidupan.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih Sudah Berkunjung di Website Kami.