Langsung ke konten utama

Hiruk Pikuk Perjalanan: Sebuah Renungan di Jalan Menuju Tulungagung

 

Hiruk Pikuk Perjalanan: Sebuah Renungan di Jalan Menuju Tulungagung

Selamat pagi. Kata-kata sederhana itu terucap dalam hati, menyapa hari yang baru. Namun, sapaan itu segera tenggelam dalam simfoni kesibukan yang sudah menggema sejak fajar merekah. Perjalanan pagi saya menuju Tulungagung pagi ini bukan sekadar transit dari titik A ke B; ia adalah sebuah panggung teatrikal di mana kehidupan sehari-hari mempertunjukkan dramanya yang paling otentik. Hiruk pikuk itu bukan lagi sekadar latar belakang, melainkan sebuah narasi hidup yang berdenyut, mewarnai setiap jengkal aspal dengan cerita tentang harapan, perjuangan, dan ritme nafas kota kecil yang bersiap untuk hari barunya.

Pemandangan pertama yang menyerbu indera adalah lautan kendaraan bermotor. Mereka bagai kawanan ikan yang bergerak dalam sebuah arus raksasa, masing-masing dikemudikan oleh seorang individu dengan tujuannya sendiri. Ada sepeda motor yang meliuk-liuk dengan gesit, dibawa oleh para pekerja yang wajahnya sudah dibayangi oleh target jam masuk kantor. Di sisi lain, mobil-mobil berdesakan, sesekali membunyikan klakson sebagai protes atau peringatan yang nyaris hilang maknanya dalam kebisingan yang menyatu. Dalam kemacetan yang terlihat kacau ini, sebenarnya terdapat sebuah tarian koordinasi yang intuitif. Setiap pengendara, dengan nalurinya, membaca gerakan satu sama lain, menciptakan sebuah koreografi survival di tengah keterbatasan ruang. Mereka adalah representasi dari ekonomi yang bergerak, roda-roda yang menggerakkan bukan hanya mesin, tetapi juga nafkah keluarga di rumah yang menunggu.

Di antara celah-celah lautan logam itu, bergeraklah angkutan umum—para veteran jalanan. Becak, angkot, dan bus-bus kecil melaju dengan gayanya sendiri, berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang dengan ritme yang seolah hanya mereka yang pahami. Mereka adalah urat nadi transportasi bagi banyak orang. Melalui jendela angkot yang terbuka, terpampang wajah-wajah yang beraneka ragam: seorang ibu muda dengan anak yang terlelap di pangkuannya, seorang bapak tua dengan kerutan wajah yang bercerita tentang kerasnya hidup, dan para remaja yang asyik dengan gadgetnya, terputus sejenak dari keramaian di luar. Angkutan umum ini adalah ruang publik yang bergerak, sebuah mikrokosmos masyarakat di mana berbagai lapisan sosial bertemu dan berbagi ruang untuk sementara waktu, diikat oleh tujuan yang sama: sampai.

Namun, narasi perjalanan ini tidak hanya terjadi di atas aspal. Di sisi trotoar, sebuah kehidupan lain berjalan paralel. Pejalan kaki memadati trotoar, menciptakan aliran manusia yang tak kalah sibuknya. Ada para pelajar dengan seragamnya yang masih rapi, bersenda gurau sambil berjalan beriringan. Ada para pedagang kaki lima yang mulai membuka lapaknya, menyusun dagangan dengan penuh harap. Aroma kopi dan gorengan pagi hari mengepul dari warung-warung kecil, menjadi magnet bagi mereka yang membutuhkan tenaga dan kehangatan sebelum memulai aktivitas. Trotoar adalah ruang hidup dan interaksi. Di sanalah tawa terdengar, kabar berbagi, dan transaksi kecil terjadi. Ia adalah bukti bahwa kehidupan sosial tidak pernah berhenti, bahkan di sela-sela kesibukan yang begitu personal seperti berangkat kerja atau sekolah.

Menyaksikan hiruk pikuk pagi ini, saya diingatkan pada sebuah metafora yang dalam. Perjalanan menuju Tulungagung ini adalah sebuah cermin dari perjalanan hidup kita sendiri. Setiap kendaraan, setiap pejalan kaki, adalah sebuah kehidupan individual dengan tujuan, rintangan, dan kecepatannya masing-masing. Kita semua adalah bagian dari arus besar ini, terkadang saling mendahului, terkadang harus berhenti sejenak, dan terkadang berjalan beriringan. Kebisingan dan kesemrawutan yang terlihat di permukaan, pada hakikatnya, adalah bukti dari sebuah dinamika kolektif. Sebuah masyarakat yang bergerak, yang tidak diam, yang terus berusaha maju meski dengan segala keterbatasan dan tantangannya.

Akhirnya, ketika Tulungagung semakin dekat, hiruk pikuk itu tidak serta merta reda, melainkan berubah bentuk. Ia berpindah dari jalan raya menuju lorong-lorong dan pasar. Pagi itu mengajarkan sebuah kesadaran bahwa dalam setiap hiruk pikuk, terdapat irama. Dalam setiap kesibukan, terdapat cerita. Dan dalam setiap perjalanan, terdapat pelajaran tentang kehidupan yang terus mengalir, tak peduli seberapa padat atau bisingnya. Perjalanan pagi ini bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang menyelami denyut nadi kehidupan itu sendiri, yang justru paling nyaring terdengar di tengah hiruk pikuk yang mewarnainya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Administrasi Perkuliahan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Tahun Akademik 2025/2026 Semester Ganjil

  Berikut Administrasi Perkuliahan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Tahun Akademik 2025/2026 Semester Ganjil : Program Studi Perbankan Syariah (PS) 1B a.       FEBI1246001 – Bahasa Arab Ekonomi (2 SKS)  1)         Daftar Hadir   //   ABSEN                                 2)         Kontrak Perkuliahan // DOWNLOAD                       3)         RPS   // DOWNLOAD                                       4)         Mod...

DAFTAR SUBMIT JURNAL FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

  BERIKUT DAFTAR SUBMIT JURNAL FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Jurnal Akses Terbuka Gratis di Indonesia dan Internasional No Nama Jurnal Keterangan relevansi & catatan penting 1 GHAITSA: Islamic Education Journal Jurnal Islam, menyediakan akses bebas dan permanen ke artikel-artikelnya. ( Siducat ) 2 ISEDU: Islamic Education Journal Membuka akses bebas, tanpa biaya atau hambatan teknis untuk pembaca. ( Jurnal Kalimasada ) 3 Islamic Perspective on Educational Science Terbit 2 kali/tahun, tema termasuk filsafat pendidikan Islam, psikologi pendidikan, dsb. Gratis untuk pembaca. ( esi.isu.ac.ir ) 4 Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism Fokus pada filsafat Islam & mistisisme. Akses penuh tanpa biaya. ( Jurnal Sadra ) 5 Journal of Islamic Education...

DAFTAR SUBMIT JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN HADIS

DAFTAR SUBMIT JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN HADIS :  Berikut beberapa rumah jurnal gratis atau open access journals yang fokus atau menerima kajian tentang Al-Qur’an dan Hadis: Daftar Jurnal Gratis / Open Access tentang Studi Al-Qur’an dan Hadis No Nama Jurnal Keterangan / Penerbit / Link 1 AL QUDS: Jurnal Studi Alquran dan Hadis Biannual, peer review; fokus studi Al-Qur’an dan Hadis. ( Rumah Jurnal IAIN Curup ) 2 Mashdar: Jurnal Studi Al-Qur’an dan Hadis Open Access (licence CC-BY-SA 4.0), UIN Imam Bonjol Padang. ( E-Journal UIN IB ) 3 Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Ilmu al-Qur’an & Tafsir Dept, UIN Syekh Nurjati Cirebon, SINTA 4. ( Jurnal Syekh Nurjati ) 4 Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur’an dan Hadits STIQ Amuntai, Kalsel. ( Jurnal STIQ Amuntai ) 5 Al-Misbah: Journal of Quran, Hadith and Tafsir Studies STAI-PIQ Sumatera Barat. ( ejournal.staipiq.ac.id ) 6 Al-Qudwah: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hadis Prodi Ilmu Al-Qur’an dan...