Penguatan Moderasi Beragama Bagi Dosen di UIN SATU Tulungagung
Tulungagung, 29 Agustus 2025 – Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung kembali meneguhkan komitmennya dalam memperkuat nilai-nilai moderasi beragama melalui kegiatan sosialisasi khusus yang ditujukan bagi para dosen. Acara yang berlangsung di Gedung Prajnaparamita ini diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN SATU Tulungagung dan menghadirkan narasumber utama, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag, Staf Ahli Menteri Agama RI Bidang Hubungan Kelembagaan.
Kegiatan bertema “Penguatan Moderasi Beragama bagi Dosen” ini menjadi bagian penting dari upaya perguruan tinggi Islam negeri tersebut dalam membumikan semangat Islam wasathiyah di kalangan akademisi. Seiring dengan semakin kompleksnya tantangan kehidupan berbangsa, nilai-nilai moderasi beragama dipandang sebagai kunci terciptanya suasana kampus yang inklusif, toleran, dan harmonis.
Moderasi Beragama sebagai Pilar Kebangsaan
Dalam paparannya, Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi menekankan bahwa moderasi beragama bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan nyata bangsa Indonesia yang plural. Dengan keberagaman suku, budaya, dan agama, bangsa ini hanya dapat berdiri kokoh apabila setiap warganya mampu menempatkan nilai-nilai toleransi, keseimbangan, serta penghargaan terhadap perbedaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Moderasi beragama adalah jalan tengah untuk menjaga keharmonisan, menghindari ekstremisme, dan membangun masyarakat yang damai. Dosen sebagai intelektual dan pendidik memiliki peran strategis untuk menanamkan nilai ini kepada mahasiswa,” tegasnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pusat pembentukan karakter. Oleh karena itu, dosen harus mampu menjadi teladan dalam praktik keberagamaan yang moderat.
Peran Strategis Dosen dalam Moderasi Beragama
Kehadiran para dosen dalam kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman mereka mengenai urgensi moderasi beragama. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar di ruang kelas, melainkan juga agen perubahan sosial yang dapat memengaruhi cara pandang mahasiswa.
“Jika dosen dapat menginternalisasi nilai moderasi beragama, maka secara otomatis ia akan menjadi model pembelajaran yang baik. Mahasiswa akan belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi juga dari sikap dan perilaku dosennya,” ujar Prof. Ahmad.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa moderasi beragama mencakup empat indikator utama:
• Komitmen Kebangsaan – Menjaga kesetiaan pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
• Toleransi – Menghargai perbedaan dalam praktik keagamaan maupun budaya.
• Anti Kekerasan – Menolak segala bentuk tindakan radikal dan anarkis.
• Akomodatif terhadap Budaya Lokal – Mampu menerima dan menghargai kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan bangsa.
UIN SATU Tulungagung sebagai Kampus Moderasi
Rektorat UIN SATU Tulungagung melalui LP2M menegaskan bahwa kampus berkomitmen untuk menjadi pusat pengembangan moderasi beragama. Hal ini sejalan dengan visi Kementerian Agama RI yang menginginkan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) tampil sebagai garda depan dalam penguatan moderasi beragama.
Ketua LP2M UIN SATU Tulungagung menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian program berkelanjutan. Sebelumnya, UIN SATU juga telah menggelar berbagai seminar, workshop, serta kuliah umum yang mengangkat tema serupa.
“Dengan adanya agenda khusus bagi dosen, kami ingin memastikan bahwa penguatan moderasi beragama tidak hanya berhenti pada level mahasiswa, tetapi juga tertanam kuat dalam diri para pendidik yang setiap hari berinteraksi langsung dengan generasi muda,” jelasnya.
Respon Positif dari Peserta
Kegiatan sosialisasi ini mendapat sambutan positif dari para dosen. Banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa materi yang disampaikan memberikan pencerahan baru dan memperkaya pemahaman tentang peran mereka dalam menjaga moderasi beragama di lingkungan kampus maupun masyarakat.
Salah seorang dosen Fakultas Tarbiyah menuturkan bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan tantangan pendidikan saat ini. “Mahasiswa datang dari latar belakang yang beragam, sehingga kita sebagai dosen harus bisa menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan ramah perbedaan. Penguatan moderasi beragama seperti ini menjadi bekal berharga bagi kami,” ujarnya.
Membangun Sinergi Kampus dan Masyarakat
Selain untuk kepentingan internal kampus, sosialisasi ini juga diharapkan memberi dampak positif bagi masyarakat luas. Dosen sebagai intelektual memiliki peran ganda: selain mendidik mahasiswa, mereka juga menjadi rujukan masyarakat sekitar.
“Moderasi beragama harus diwujudkan tidak hanya dalam konteks akademik, tetapi juga sosial. Dosen diharapkan bisa menjadi jembatan yang menyebarkan pesan damai dan toleran kepada masyarakat,” ungkap Prof. Ahmad.
Dengan demikian, nilai moderasi beragama akan semakin mengakar tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga dalam kehidupan sosial masyarakat.
Penutup: Mengokohkan Komitmen Moderasi
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat pagi ini menjadi bukti nyata komitmen UIN SATU Tulungagung dalam mendukung program nasional penguatan moderasi beragama. Dengan melibatkan dosen sebagai sasaran utama, diharapkan lahir generasi akademisi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam menyikapi perbedaan.
Moderasi beragama diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam membangun peradaban bangsa yang damai, inklusif, dan berkeadilan. UIN SATU Tulungagung terus berupaya untuk menjadi pelopor gerakan ini, sejalan dengan visinya sebagai perguruan tinggi Islam unggul yang mampu menjawab tantangan zaman.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih Sudah Berkunjung di Website Kami.