Menanti dan Berangkat: Sepenggal Kisah di Terminal Tulungagung
Terminal bukanlah sekadar tempat singgah. Ia adalah simpul perjalanan, ruang pertemuan, sekaligus titik awal dari berbagai kisah yang tak jarang penuh makna. Terminal Tulungagung, yang berada di salah satu kota kecil nan hangat di Jawa Timur, memiliki peran penting dalam denyut nadi transportasi masyarakatnya. Di sanalah orang-orang menanti dan berangkat, membawa serta cerita masing-masing. Ada air mata, ada senyum, ada rindu, dan ada pula harapan yang terselip di setiap langkah kaki yang melintasinya.
Bagi saya pribadi, pengalaman menanti bis di Terminal Tulungagung adalah momen yang sarat kesan. Saat pertama kali tiba, suasana terminal langsung menyambut dengan warna-warni kehidupan. Suara klakson kendaraan, teriakan kondektur yang menyebutkan jurusan dengan lantang, serta hiruk pikuk penumpang yang berlalu-lalang menjadi paduan irama yang khas. Di sela-sela itu, tampak pedagang kecil menjajakan jajanan sederhana seperti kacang rebus, gorengan hangat, hingga minuman botol. Semua berpadu menjadi mozaik kehidupan terminal yang hidup dan penuh dinamika.
Menunggu bis di terminal sering kali menjadi pengalaman yang penuh kesabaran. Tidak jarang jadwal keberangkatan bis mengalami perubahan karena alasan teknis atau kondisi jalan. Namun, justru dari proses menunggu itu muncul banyak kesempatan untuk merenung dan mengamati. Saya sering melihat wajah-wajah penumpang lain yang sedang menunggu, masing-masing dengan ekspresi yang berbeda. Ada yang tampak gelisah karena terburu waktu, ada yang tenang sambil menikmati kopi dari warung kecil, ada pula yang sibuk bercengkerama dengan keluarga yang mengantar. Dari situ saya menyadari bahwa terminal bukan hanya tempat perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan emosional.
Ketika bis yang ditunggu akhirnya datang, suasana berubah menjadi hiruk pikuk yang khas. Penumpang bergegas masuk sambil membawa barang bawaan, kondektur sibuk mengatur kursi, dan sopir bersiap menjalankan mesin. Saya sendiri merasakan rasa lega sekaligus antusias ketika melangkah masuk ke dalam bis. Lega karena penantian telah usai, dan antusias karena perjalanan baru akan segera dimulai. Di dalam bis, suasana berbeda dari terminal—lebih hening, lebih tertata, seolah penumpang mulai menyiapkan diri untuk menempuh jarak jauh.
Di balik pengalaman sederhana itu, ada makna mendalam yang sering terabaikan. Terminal adalah tempat perpisahan. Banyak orang melepas keluarga, sahabat, atau kerabat dengan pelukan dan lambaian tangan. Ada isak tangis anak yang ditinggalkan orang tuanya merantau, ada pula doa yang terucap lirih agar perjalanan lancar dan selamat. Namun, terminal juga menjadi tempat pertemuan kembali. Ketika bis tiba membawa penumpang pulang, senyum dan pelukan hangat menjadi pemandangan yang menggetarkan hati. Dua momen ini—perpisahan dan pertemuan—menjadi wajah ganda dari terminal, yang tak pernah lepas dari kehidupan manusia.
Terminal Tulungagung juga mencerminkan denyut sosial masyarakatnya. Di sana, semua lapisan masyarakat bertemu. Petani, pedagang, mahasiswa, pegawai negeri, hingga perantau yang pulang kampung duduk berdampingan di kursi tunggu. Tidak ada sekat status sosial yang membatasi. Setiap orang adalah penumpang yang sama-sama menanti keberangkatan. Situasi ini menghadirkan pelajaran berharga bahwa perjalanan, pada hakikatnya, menyatukan manusia dalam kesederhanaan yang sama.
Lebih jauh, terminal juga menjadi simbol perjalanan hidup. Menanti bis dapat diibaratkan sebagai fase ketika manusia menunggu kesempatan, berusaha sabar, dan menata diri. Berangkat dengan bis adalah simbol dari keberanian mengambil langkah, meninggalkan zona nyaman, serta menapaki jalan baru dengan segala risiko yang menyertainya. Pulang kembali ke terminal menggambarkan fase kepulangan, ketika manusia kembali kepada keluarga, kampung halaman, atau bahkan hakikat dirinya. Dengan demikian, pengalaman menanti dan berangkat di Terminal Tulungagung tidak hanya meninggalkan jejak fisik, melainkan juga renungan filosofis yang mendalam.
Selain itu, terminal juga menyimpan banyak cerita kecil yang sering luput dari perhatian. Pedagang asongan yang menjajakan dagangannya dari bis ke bis, misalnya, adalah potret kegigihan untuk bertahan hidup. Tukang ojek yang sabar menunggu penumpang di sudut terminal adalah cermin dari kerja keras. Bahkan para petugas kebersihan yang setia menjaga terminal agar tetap layak digunakan adalah bagian dari narasi yang tak boleh dilupakan. Semua itu menunjukkan bahwa terminal adalah ekosistem sosial yang menyatukan banyak kepentingan dalam satu ruang.
Pengalaman saya di Terminal Tulungagung selalu meninggalkan kesan hangat. Bukan hanya karena suasananya yang khas, tetapi juga karena setiap perjalanan dari sana membawa cerita baru. Ada rasa bangga bahwa Tulungagung memiliki simpul transportasi yang menghubungkan warganya dengan kota-kota lain, sekaligus rasa syukur karena bisa menjadi bagian dari dinamika itu. Menanti dan berangkat dari terminal, pada akhirnya, bukan hanya soal perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin yang sarat makna.
Terminal akan terus hidup selama ada manusia yang melakukan perjalanan. Di sanalah kisah-kisah kecil bertemu, terjalin, lalu berpisah lagi. Menanti dan berangkat dari Terminal Tulungagung adalah cerminan dari perjalanan hidup itu sendiri: ada penantian, ada keberangkatan, ada perpisahan, dan ada pertemuan kembali. Semua terjalin dalam satu ruang sederhana yang sarat makna, menjadikan terminal lebih dari sekadar tempat transit—melainkan ruang kehidupan yang penuh cerita.

Komentar
Posting Komentar
Terimakasih Sudah Berkunjung di Website Kami.